Komteral: Kompos Ternak Ramah Lingkungan, Upaya Tim KKN-PPM UGM Mendorong Pemanfaatan Limbah Peternakan Bernilai Ekonomis
Melalui penyuluhan, demonstrasi pembuatan kompos, dan pembagian starter mikroba, Tim KKN-PPM UGM mengajak masyarakat mengolah kotoran ternak menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi sektor pertanian




Pengelolaan limbah peternakan yang kurang tepat dapat menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan, seperti pencemaran, bau tidak sedap, hingga menurunnya kualitas sanitasi di sekitar kandang. Di sisi lain, limbah berupa kotoran ternak memiliki potensi untuk diolah menjadi kompos yang bernilai guna dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Berangkat dari kondisi tersebut, Tim KKN-PPM Universitas Gadjah Mada Unit Desa Ponggok menyelenggarakan program KOMTERAL (Kompos Ternak Ramah Lingkungan) sebagai salah satu upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan limbah peternakan yang lebih ramah lingkungan dan bernilai ekonomis.
Program dilaksanakan di kediaman Ketua RT Dusun Sumber, Desa Ponggok, Kecamatan Pacitan pada Jum’at, 10 Juli 2026 dan diikuti oleh peternak serta masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap pengelolaan limbah peternakan. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai manfaat kompos, tetapi juga dibekali keterampilan praktis dalam membuat kompos dari kotoran ternak menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar.
Berdasarkan hasil observasi Tim KKN selama berada di lokasi, sebagian besar peternak telah memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk secara langsung tanpa melalui proses pengomposan. Padahal, proses pengomposan dapat meningkatkan kualitas pupuk, mengurangi bau, menekan keberadaan bibit penyakit, serta menghasilkan produk yang lebih mudah diaplikasikan pada lahan pertanian. Selain itu, masih terdapat masyarakat yang belum mengetahui bahwa limbah peternakan dapat diolah menjadi pupuk yang memiliki nilai tambah dan berpotensi mendukung kegiatan pertanian secara berkelanjutan.
Kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Dusun yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif Tim KKN dalam menghadirkan program yang menghubungkan sektor peternakan dan pertanian. Setelah itu, peserta memperoleh penyuluhan mengenai pentingnya pengelolaan limbah peternakan, manfaat penggunaan pupuk organik dari limbah peternakan, serta prinsip dasar proses pengomposan. Materi disampaikan secara interaktif dengan menggunakan media presentasi dan leaflet sehingga mudah dipahami oleh seluruh peserta.
Memasuki sesi praktik, Tim KKN mendemonstrasikan tahapan pembuatan kompos menggunakan kotoran ternak kambing sebagai bahan utama yang dipadukan dengan bahan pendukung sesuai formulasi yang telah disiapkan. Peserta diperkenalkan pada fungsi masing masing bahan, tahapan pencampuran, pengaturan kelembaban, hingga proses fermentasi yang diperlukan agar kompos matang dengan baik. Selama demonstrasi berlangsung, peserta juga diberikan kesempatan untuk ikut mencampurkan bahan sehingga dapat memahami setiap tahapan secara langsung.
Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Berbagai pertanyaan diajukan oleh peserta, mulai dari lama proses pengomposan, tanda-tanda kompos yang telah matang, hingga cara penyimpanan agar kualitas kompos terjaga. Diskusi tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk mulai mengolah limbah peternakan menjadi produk yang lebih bermanfaat.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, Tim KKN membagikan starter mikroba dan leaflet panduan pembuatan kompos kepada peserta. Pembagian tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk mempraktikkan kembali proses pengomposan secara mandiri setelah kegiatan berakhir. Selain menghasilkan pupuk organik bagi lahan pertanian, pemanfaatan limbah peternakan melalui pengomposan juga diharapkan mampu mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan nilai tambah dari limbah yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal. "Selama ini kotoran ternak hanya kami kumpulkan di belakang kandang atau langsung digunakan di lahan. Setelah mengikuti kegiatan ini, kami jadi memahami bahwa pengomposan dapat menghasilkan pupuk yang kualitasnya lebih baik dan lebih praktis digunakan," ungkap Sutrisno, salah seorang peserta kegiatan.
Melalui program KOMTERAL, Tim KKN-PPM UGM berupaya mendorong masyarakat untuk memandang limbah peternakan bukan sebagai sisa yang hanya dapat dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki manfaat ekonomi dan lingkungan. Penerapan teknologi sederhana yang diperkenalkan dalam kegiatan ini diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.
"Kami berharap masyarakat dapat terus melanjutkan praktik pengomposan secara mandiri. Dengan memanfaatkan sumber daya yang sudah tersedia di sekitar, masyarakat tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memperoleh manfaat bagi sektor pertanian dan peternakan secara bersamaan," ujar Giyant Elsha, sebagai pemateri dari Tim KKN-PPM UGM Unit Desa Ponggok. Melalui sinergi antara masyarakat, pemerintah dusun, dan perguruan tinggi, program KOMTERAL diharapkan mampu mendorong terciptanya sistem pengelolaan limbah peternakan yang lebih ramah lingkungan, efisien, berkelanjutan. Ke depan, praktik pengomposan yang telah diperkenalkan diharapkan dapat terus diterapkan serta menjadi salah satu upaya nyata dalam mendukung pertanian dan peternakan yang saling terintegrasi di tingkat masyarakat.