Kolaborasi Mahasiswa KKN dan Dinas Pertanian: Petani Dusun Banaran Dilatih Membuat Agen Hayati Trichoderma sp. dengan Media Jagung
Memanfaatkan media jagung halus, program ini membekali petani cara menekan penyakit tanaman pangan secara alami dan mandiri


Menjaga produktivitas dan kesehatan tanaman pangan dari serangan penyakit masih menjadi tantangan bagi banyak petani. Menjawab persoalan tersebut, mahasiswa KKN-PPM UGM menggandeng Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian Kecamatan Pacitan mengadakan kegiatan sosialisasi pemanfaatan agen hayati pada Jumat, 3 Juli 2026.
Berlokasi di Dusun Banaran, Desa Ponggok, Kecamatan Pacitan, kegiatan ini menyasar langsung kelompok petani setempat. Fokus utamanya adalah mengenalkan sekaligus mempraktikkan cara menekan penyakit tanaman pangan menggunakan mikroorganisme tanah yang ramah lingkungan, yaitu jamur Trichoderma sp.
Kegiatan diawali dengan sesi belajar bersama mengenai apa itu Trichoderma sp. dan manfaat besarnya bagi lahan pertanian. Lewat pemaparan yang santai, petani diajak memahami bahwa tidak semua jamur merusak tanaman. Trichoderma sp. justru merupakan "jamur baik" yang bekerja sebagai pelindung akar tanaman dari patogen penyebab penyakit layu atau busuk. Selain bertindak sebagai biopestisida alami, jamur ini juga berfungsi merangsang pertumbuhan akar dan menyuburkan tanah. Hal ini menjadi solusi cerdas bagi warga desa untuk mulai mengurangi ketergantungan pada bahan kimia buatan.
Antusiasme warga Dusun Banaran semakin terlihat ketika acara berlanjut ke sesi praktik pembiakan agen hayati. Tidak sekadar teori di atas kertas, warga diajak membuat Trichoderma sp. secara langsung dengan panduan step-by-step dari petugas POPT.
Menariknya, media yang digunakan sangat merakyat dan mudah didapatkan, yakni jagung yang dihaluskan. Jagung halus ini berfungsi sebagai "rumah" sekaligus sumber nutrisi karbohidrat yang optimal agar jamur Trichoderma sp. bisa tumbuh dan berkembang biak dengan baik sebelum nantinya ditebar ke lahan pertanian warga.
Melalui kolaborasi sinergis antara mahasiswa KKN, tenaga ahli pertanian, dan masyarakat desa, sosialisasi ini diharapkan memberikan dampak jangka panjang. Berbekal ilmu dan pengalaman praktik langsung, para petani di Dusun Banaran kini memiliki bekal untuk memproduksi agen hayati secara mandiri. Ke depannya, langkah pemberdayaan ini diharapkan mampu menekan biaya perawatan tanaman, meningkatkan hasil panen pangan, dan menjaga kelestarian ekosistem tanah di Desa Ponggok.