Pemanfaatan Tempurung Kelapa Menjadi Briket Energi dan Karbon Aktif Penjernih Air
Mahasiswa KKN ajak warga manfaatkan limbah batok kelapa menjadi sumber energi alternatif bernilai guna


Keberadaan pohon kelapa yang melimpah di Desa Ponggok tentu membawa banyak manfaat bagi warganya. Namun, di balik potensi tersebut, tim KKN-PPM UGM menemukan satu tantangan berdasarkan hasil survei lapangan yaitu menumpuknya limbah tempurung (batok) kelapa yang belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat.
Merespons kondisi tersebut, tim mahasiswa KKN meluncurkan program edukasi "Pemanfaatan Tempurung Kelapa Menjadi Briket Energi dan Karbon Aktif Penjernih Air" yang dilaksanakan pada Selasa, 14 Juli 2026. Berlokasi di Dusun Krajan Kidul, Desa Ponggok, Kecamatan Pacitan, kegiatan ini mengajak warga melihat sisi lain dari limbah batok kelapa yang kerap kali hanya dibuang atau dijadikan kayu bakar biasa.

Antusiasme warga Dusun Krajan Kidul sangat terasa saat kegiatan memasuki sesi praktik langsung. Dalam kesempatan ini, mahasiswa memandu tahapan pembuatan briket energi menggunakan bahan dasar tempurung kelapa yang sebelumnya telah dihaluskan. Warga diajak untuk mempraktikkan proses pencampuran bahan hingga pencetakan briket secara mandiri.
Materi yang disampaikan menyoroti keunggulan briket dibandingkan arang konvensional. Melalui pemrosesan yang tepat, briket tempurung kelapa mampu menghasilkan panas yang lebih stabil, minim asap, dan durasi pembakarannya jauh lebih tahan lama daripada arang biasa. Hal ini tentu menjadikannya alternatif bahan bakar yang sangat efisien untuk keperluan memasak rumah tangga maupun usaha kuliner skala kecil.

Selain itu, mahasiswa KKN-PPM UGM juga membuka wawasan warga mengenai inovasi lanjutan dari tempurung kelapa. Warga dikenalkan pada konsep karbon aktif, di mana tempurung kelapa yang diproses sedemikian rupa ternyata memiliki fungsi luar biasa sebagai media penjernih air. Meski pada sesi ini karbon aktif hanya diperkenalkan secara teori sebagai pemantik wawasan, warga tampak takjub mengetahui besarnya nilai guna dari limbah yang selama ini berserakan di sekitar mereka.
Melalui program pemberdayaan ini, diharapkan masyarakat Dusun Krajan Kidul dan Desa Ponggok pada umumnya dapat mulai memandang limbah tempurung kelapa sebagai "emas hitam" yang potensial. Dengan pengolahan yang tepat, limbah yang awalnya tidak berharga kini bisa disulap menjadi sumber energi alternatif yang hemat, ramah lingkungan, dan bahkan memiliki nilai ekonomis jika dikembangkan lebih lanjut.